Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Alan Turing, Seorang Gay Penemu Komputer

Written By Unknown on 23 Juni 2012 | 15.10


Alan Turing, Ilmu Komputer, Filsuf, Visioner, Matematika
Alan Mathison Turing
Hari ini adalah ulang tahun seorang pakar matematik dan penemu ilmu komputer "Alan Turing" dan di hari ini Google memperingati 100 tahun kelahiran Alan Turing, dengan menyajikan sebuah logo khusus Google untuk Alan Turing.

Nama lengkapnya adalah Alan Mathison Turing (lahir 23 Juni 1912) adalah seorang metematikawan, filsuf, pemecah kode sandi, dan seorang visioner unik dan brilian berkebangsaan Inggris sekaligus penemu ilmu komputer. Alan Turing sangat berjasa dalam perkembangan ilmu komputer, dan dikenal sebagai pencetus konsep “algoritma” dan “komputerisasi” dengan mesin Turing ciptaannya. Atas jasanya dalam proses komputerisasi modern, Alan Turing mendapat gelar kehormatan sebagai bapak ilmu komputer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Hidup Alan Turing begitu singkat namun luar biasa. Pemikiran dan hasil karyanya banyak diminati dan dinikmati masyarakat dunia.
Logo Google, Alan Turing, Ilmu Komputer
Logo Google - Alan Turing

Alan Mathison Turing
Lahir23 Juni 1912
Maida Vale, London, Inggris
Meninggal07 Juni 1954 (umur 41)
Wilmslow, Cheshire, Inggris
Tempat tinggalBritania Raya
KebangsaanInggris
BidangMatematikawan
InstitusiUniversity of Manchester
National Physical Laboratory
Government Code and Cypher School
University of Cambridge
Alma materUniversity of Cambridge
Princeton University
Pembimbing
akademik
Alonzo Church
Mahasiswa
doktoral
Robin Gandy
Dikenal atasHalting problem
Turing machine
Cryptanalysis of the Enigma
Automatic Computing Engine
Turing Award
Turing Test
PenghargaanOfficer of the Order of the British Empire
Fellow of the Royal Society
Selama Perang Dunia II, Alan Turing bekerja untuk GCCS di Bletchley Park, sebuah pusat pengkodean di Inggris. Ia menjabat sebagai kepala Hut 8, yang bertanggung jawab untuk pembacaan sandi angkatan laut Jerman. Dia berhasil menemukan sejumlah teknik untuk memecahkan algoritma Cipher Jerman, termasuk cara Bombe, sebuah mesin elektromekanis yang dapat menemukan pengaturan untuk mesin Enigma.

Alan Turing memahami bahwa komponen elektronik menawarkan kecepatan, kapasitas penyimpanan dan fungsi logis yang dapat dijadikan sebagai 'kaset' dan tabel instruksi dimana data dan tabel instruksi bisa disimpan dan dimanipulasi secara bersama-sama.

Pada Februari 1952, Alan Turing ditangkap dan diadili oleh pengadilan Inggris atas perselingkuhan seksualnya (homoseksual) dengan seorang pria muda Manchester yang ketika itu homoseksual masih ilegal di Inggris. Alan Turing dihukum dan harus menjalani suntikan estrogen untuk meniadakan dorongan seksualnya sebagai pengganti hukuman penjara.

Alan Turing meninggal pada 7 Juni 1954, hanya dua minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-42, diduga akibat keracunan sianida. Penyelidikan menyebutkan bahwa Alan Turing bunuh diri, ibunya dan beberapa orang lain percaya bahwa kematiannya adalah sebuah kecelakaan.

Pada tanggal 10 September 2009, Perdana Menteri Inggris Gordon Brow secara resmi membuat permintaan maaf kepada publik atas nama pemerintah Inggris yang telah memperlakukan Alan Turing dengan tidak manusiawi. Padahal Alan Turing adalah seorang pahlawan perang Inggris selama perang Dunia II. "Gordon Brown: I'm proud to say sorry to a real war hero"

Sumber: wikipedia, Plato Stanford, Turing

Bani Jawi (Melayu Deutro), dalam Sejarah dan Legenda

Written By Unknown on 10 Juni 2012 | 23.27

Pada masa Dinasti ke-18 Fir’aun di Mesir (sekitar 1.567SM-1.339SM), di pesisir barat pulau sumatera telah ada pelabuhan yang ramai, dengan nama Barus. Pelabuhan ini berkembang dengan baik, dikarenakan ada bangsa yang mengatur, serta menjaganya dari serangan bajak laut atau negara lain. Penguasa Pelabuhan Barus, dikenal dengan nama Bangsa Malai. Malai dalam bahasa Sanskrit atau Tamil, berarti bukit (gunung). Seperti namanya, Bangsa Malai bermukim di sekitar perbukitan (dataran tinggi). Asal Muasal Bangsa Malai Diperkirakan bangsa Malai, bermula dari 4 (empat) bangsa, yakni Arab-Cina-Eropa-Hindia, terkadang disingkat ACEH (sampai sekarang istilah ACEH masih dinisbatkan kepada keturunan Bangsa Malai yang tinggal di ujung utara pulau sumatera).

Lemuria, Bani Jawi

Bangsa yang pertama datang adalah Bangsa Hindia Malaya (Himalaya). Bangsa Himalaya merupakan interaksi antara Bangsa Hindia (keturunan Kusy keturunan Ham bin Nabi Nuh), dengan Bangsa Malaya (keturunan Bangsa Malaya Purba/Atlantis/Sundaland [Penduduk Asli Nusantara], yang selamat dari bencana banjir Nuh). Pada awalnya mereka tinggal di kaki gunung Himalaya, sekitar tahun 6.000SM mereka datang ke pulau sumatera. Mereka menyusul kerabatnya bangsa Polinesia (keturunan Heth keturunan Ham bin Nabi Nuh), yang telah terlebih dahulu datang, dan bertempat tinggal di bagian timur Nusantara. Pada sekitar tahun 4.500SM, datang Bangsa Cina atau Bangsa Formosa (keturunan Shini keturunan Yafits bin Nabi Nuh). Bangsa ini membawa budaya Agraris dari tempat asalnya.

Setelah itu sekitar tahun 2.500SM, datang Bangsa Eropa atau Bangsa Troya/Romawi Purba (keturunan Rumi keturunan Yafits bin Nabi Nuh), mereka membawa Peradaban Harappa, yang dikenal sudah sangat maju. Dan terakhir sekitar tahun 2.200SM datang Bangsa Arab Purba atau Bangsa Khabiru (keturunan ‘Ad keturunan Sam bin Nabi Nuh). Bangsa Khabiru adalah pengikut setia Nabi Hud, mereka datang dengan membawa keyakinan Monotheisme, di dalam masyarakat pulau sumatera.

Penyatuan ke-empat bangsa ini di kenal dengan nama Bangsa Malai (Bangsa Aceh Purba/Melayu Proto), dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan dan petani. Bangsa Malai sebagaimana leluhur pertamanya Bangsa Himalaya, mendiami daerah dataran tinggi, yaitu di sepanjang Bukit Barisan (dari Pegunungan Pusat Gayo di utara, sampai daerah sekitar Gunung Dempo di selatan). Bermula dari Bukit Barisan inilah, Bangsa Malai menyebar ke pelosok Nusantara, seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaya, Siam, Kambujiya, Sunda, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Bangsa Malai Pelindung Nusantara Menurut para sejarawan, Bangsa Mongoloid begitu mendominasi daerah di sebelah utara Nusantara.

Muncul pertanyaan, mengapa bangsa Mongoloid tidak sampai meluaskan kekuasaan sampai ke selatan, bukankah nusantara adalah daerah yang sangat layak untuk dikuasai? Daerahnya subur, serta tersimpan beraneka bahan tambang seperti emas, timah dan sebagainya. Apa yang mereka takutkan? Jawabnya hanya satu, karena Nusantara ketika itu, dilindungi Bangsa Malai. Bangsa Malai dikenal memiliki kekuatan maritim yang kuat, dan balatentaranya memiliki ilmu beladiri yang mumpuni.

Siti Qanturah Leluhur Bani Jawi Pada sekitar tahun 1670SM, dikhabarkan Nabi Ibrahim (keturunan Syalikh keturunan Sam bin Nabi Nuh) telah sampai berdakwah di negeri Bangsa Malai. Beliau diceritakan memperistri puteri Bangsa Malai, yang bernama Siti Qanturah (Qatura/Keturah). Dari pernikahan itu Nabi Ibrahim di karuniai 6 anak, yang bernama : Zimran, Jokshan, Medan, Midian, Ishbak dan Shuah. Dari anak keturunan Siti Qanturah kelak akan memunculkan bangsa Media (Madyan), Khaldea dan Melayu Deutro (berdasarkan perkiraan, Nabi Ibrahim hidup di masa Dinasti Hyksos berkuasa di Mesir Kuno (1730SM-1580SM), sementara versi lain menyebutkan, Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Qanturah, pada sekitar tahun 2025SM).

Bangsa Melayu Deutro (Malai Muda), yang saat ini mendiami kepulauan Nusantara, juga mendapat sebutan Bani Jawi. Bani Jawi yang berasal dari kata Bani (Kaum/Kelompok) JiWi (Ji = satu ; Wi = Widhi atau Tuhan). Jadi makna Bani Jawi (JiWi) adalah kaum yang meyakini adanya satu Tuhan. Keterangan mengenai Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, ditulis oleh sejarawan terkemuka Ibnu Athir dalam bukunya yang terkenal ‘al-Kamil fi al-Tarikh’. Catatan : Melayu Deutro adalah istilah yang digunakan para sejarawan modern, untuk meng-indentifikasikan Bani Jawi, dimana Ibnu Athir menerangkan bahwa Bani Jawi adalah keturunan Nabi Ibrahim. Keterangan Ibnu Athir ini semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik). Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.
DNA Molukel

Suku Jawa adalah suku terbesar dari Bani Jawi. Dan sejak dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan adanya Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi. Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di dalam masyarakat Sunda Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini adanya ‘Allah Yang Maha Kuasa’, yang dilambangkan dengan ucapan bahasa ‘Nu Ngersakeun’ atau disebut juga ‘Sang Hyang Keresa’.

K.H. ABDUL WAHID HASYIM (1914-1953)


Abdul Wahid Hasyim, Tebuireng
Terlahir sebagai anak ulama besar. Di usia 31 tahun ia sudah menjadi menteri negara. Mempertahankan Departemen Agama dan mengembangkan perguruan tinggi Islam.
NAMA lengkapnya Abdul Wahid Hasyim (Lahir di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914). Ia adalah anak kelima dari 10 bersaudara pasangan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dengan Nafiqah. Sebagai anak seorang kiai, Wahid belajar dari lingkungan keluarganya. Sejak usia 5 tahun, is sudah belajar membaca Al-Qur’an yang dibimbing langsung oleh ayahnya. Ia menempuh pendidikan madrasah dari lingkungan pesantren Tebuireng dan malam harinya mendapat pelajaran khusus dari ayahnya. Kondisi ini dilakoninya sampai usia 12 tahun.
Kitab-kitab klasik yang dipakai dipesantren, seperti Fath al-Qarib (kemenangan bagi yang dekat) dan al-Minhaj al-Qawim (jalan yang lurus), sudah ia pelajari di usia 7 tahun. Buku tentang kesusastraan, seperti Diwan asy-Syllara (kumpulan penyair dengan syair-syairnya), juga dilahapnya. Ketika usianya lepas 12 tahun, ia pergi ke berbagai pesantren. Antara lain ke pesantren Siwalan Panji, dan Lirboyo di Kediri. Kitab-kitab seperti Sullam at-Taufiq (tangga untuk mendapat taufik), Bidayall al Mujtahid (permulaan bagi Mujahid) dan Tafi;ir al-falalain (Tafsir bagi dua tokoh yang bemama Jalal), ia pelajari secara khusus. Hanya sekitar 3 tahun ia menimba ilmu di luar Tebuireng, Wahid kembali ke rumahnya dan dibimbing oleh ayahnya lagi. Di usia 15 tahun Wahid mempelajari bahasa bahasa-bahasa dunia, selain Arab, ia juga mempelajari bahasa Belanda dan Inggris.
ABDUL WAHID HASYIM
Pada usia 18 tahun, Wahid menunaikan haji. Kesempatan itu ia gunakan untuk memperdalam dan memperlancar bahasa Arab. Pulang dari Mekah, ia mengadakan pembaruan dalam sistem pendidikan di pesantren. Antara lain, dengan memasukkan pelajaran ilmu-ilmu umum di dalam kurikulum pondok pesantren. Awalnya ia mendapat kecaman yang cukup keras dari kalangan kiai, tapi, lama kelamaan kritikan itu pupas seiring keberhasilan pondok dan minat yang luar biasa dari orangtua santri untuk memasukkan anak-anak mereka ke Tebuireng. Di usia 20-an, Wahid sudah menghabiskan waktunya untuk aktivitas Nandlatul Ulama (NU) yang didirikan oleh, antara lain, ayahandanya, Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Meski anak sang pendiri, tapi karer di ormas terbesar ini ia rintis dari bawah, dari ranting Tebuireng sampai menjadi Ketua Pendidikan Ma’arif NU. Ketika NU memisahkan diri dari Masyumi dan berubah menjadi partai politik, tahun 1950, Wahid terpilih sebagai ketua Biro Politik NU.
Karir politik Wahid dirintisnya sejak tahun 1944 ketika ia memboyong keluarganya ke Jakarta. Bermula dari posisinya sebagai Ketua II Majelis Syura Dewan Partai Masyumi tahun 1945. Posisinya sama dengan Ki Bagus Hadikusumo (ketua I) dan Mr. Kasman Singodimejo (ketua III), sedangkan ketua umumnya dijabat oleh Hasyim Asy’ari, ayah Wahid.
Karir di pemerintahan, ketika masa revolusi, ia pernah menjabat sebagai menteri negara. Pada 20 Desember 1949, Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Hatta. Kabinet boleh berganti, tapi jabatan menteri agama tetap ia pegang. Setelah Kabinet Hatta (1949-1950) berakhir, di era Kabinet Natsir (1950-1951) dan Sukiman (1953), Wahid tetap menjadi menteri agama, sampai meninggal pada 19 April 1953, dalam sebuah kecelakaan mobil di daerah Cimahi, Bandung.
BERJUANG UNTUK SYARIAT
Ketika pada 7 Desember 1944 Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk, Wahid masuk sebagai salah seorang anggotanya. Ia adalah anggota termuda. Badan baru ini pun dua kali mengadakan sidang, 28 Mei-1 juni 1945 dan 1017 Juli 1945. Inilah babak baru dalam perumusan dasar negara yang mewarnai kehidupan bernegara Indonesia sepanjang masa. Perdebatan sengit terjadi antara kalangan nasionalis dengan kalangan Islamis. Soekarno mewakili kalangan nasionalis yang netral agama. Sementara, di pihak Islam, Abdoel Kahar Moezakkir, Ki Bagus Hadikusuma, K.H. Ahmad Sanusi , dan Wahid Hasyim. Di antara para anggota itu, Wahid adalah yang paling muda, baru berusia 31 tahun. Meski usianya muda, tapi ilmu yang dipunyai tak semuda usianya. Ia mampu menangkal argumentasi yang diusung oleh kelompok nasionalis.
Rupanya, perdebatan tak menemukan jalan keluar. Masing-masing pihak, termasuk Wahid Hasyim, bersikukuh dengan pendapatnya. Maka, dibentuklah pantia sembilan, sebuah panitia kecil yang terdiri dari empat wakil Islam (Haji Agus Salim, Wahid Hasyim, Abikusno, dan Abdoel Kahar Moezakkir) dan lima kalangan nasionalis dan nonmuslim (Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Achmad Subardjo, dan Muhammad Yamin) Hasilnya, panitia kecil tersebut berhasil merumuskan pembukaan UUD yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Jakarta, di mana pada sila pertama tertulis, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Ini terjadi pada 22 Juni 1945. Inilah yang, oleh panitia kecil diangap sebagai jalan tengah maksimal yang bisa mengompromikan dua arus besar dalam persidangan pertama. Maramis, wakil dari Nasrani, kepada Abikusno dan Kahar Moezakir menyatakan persetujuannya. “Setuju 200%,” kata Maramis.
Tapi, rupanya, perjalanan tak semulus seperti yang diharapkan. Pada bulan Agustus 1945, satu persatu ide Islamisasi ini digugurkan. Setelah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibentuk sebagai ganti BPUPKI, hanya dua wakil Islam yang duduk di sana. Mereka adalah Wahid Hasyim dan Ki Bagus Hadikusumo (wakil dari Muhammadiyah). Mereka ini memang wakil-wakil ormas yang tangguh, tapi bukanlah politikus yang berpengalaman. Setidaknya bila dibandingkan dengan kelompok nasionalis yang sudah malang melintang di dunia politik jauh sebelum tahun 1940.
Dalam sidang-sidang berikutnya, dan puncaknya pada 18 Agustus 1945, kalimat tentang “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dihapus dari Mukadimah UUD 1945. Adapun penghapusan piagam Jakarta tersebut bermula dari pagi hari 18 Agutus 1945, sebelum sidang panitia persiapan dimulai, Hatta mengundang 4 orang panitia yang dianggap mewakili umat Islam. Mereka adalah Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo, dan Teuku Mohammad Hasan. Kepada mereka Hatta mengatakan kalau ia telah didatangi oleh seorang perwira angkatan laut Jepang yang membawa pesan dari rakyat Kristen di daerah Indonesia Timur akan menolak masuk ke dalam pangkuan republik bila rumusan Piagam Jakarta itu masuk dalam konstitusi. Orang-orang Kristen merasa ada diskriminasi atas apa yang tercantum dalam Piagam Jakarta tersebut. Padahal, baik Hatta maupun Maramis (wakil Kristen) tidak keberatan atas usulan tersebut. Tapi, karena ada berita tidak sedap dari perwira Jepang itu, maka Hatta pun membicarakannya kepada para wakil-wakil Islam. Hatta lalu menyarankan agar kata-kata yang ada dalam Piagam Jakarta itu dieliminir. Dan kata Ketuhanan diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Saat itulah, kata Hatta, Wahid Hasyim memberi komentar, “Kata Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan tauhid dalam Islam, dan pergantian kalimat tersebut akan memuaskan kalangan Islam. Hanya Islam yang mengakui Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Dalam catatan sejarah, kehadiran Wahid Hasyim dalam pertemuan dengan Hatta tersebut masih kontroversial. Menurut Hatta, Hasyim hadir dalam pertemuan tersebut, begitu pula menurut Kasman Singodimedjo. Tapi, menurut Prawoto Mangkusasmita, Wahid Hasyim tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Begitu pula pendapat tokoh Masyumi, K.H. Isa Ansyari, di depan Konstituante tahun 1957. Menurutnya, Wahid Hasyim tidak hadir dalam pertemuan tersebut. “Kejadian ini mencolok mata, seperti permainan sulap, penuh patgulipat politik,” paparnya memberi ilustrasi bagaimana kelompok nasionalis menelikung wakil-wakil dari umat Islam. Lepas dari kontroversi tentang hadir tidaknya Wahid dalam pertemuan dengan Ha tta itu, yang menarik di sini adalah sikapnya setelah “pertemuan” tersebut. Di berbagai forum, ia tak pernah menyinggung soal pertemuan wakil-wakil Islam dengan Hatta, bahkan tidak juga membicarakan soal piagam Jakarta. Ini menunjukkan kebesaran jiwa Wahid yang menghargai apa-apa yang dihasilkan oleh sebuah forum. Sebagai seorang muslim, Wahid tak perlu diragukan lagi bahwa dia adalah seorang yang teguh dalam memperjuangkan Islam, tapi, sebagai seorang demokrat sejati, ia menghargai keputusan dalam sebuah forum. Bagi kalangan Islam, Piagam Jakarta bukanlah sesuatu yang tabu untuk dihidupkan kembali. Menjelang Pemilu I tahun 1955, wacana tentang Piagam Jakarta dihidupkan kembali. Semua partai-partai Islam merujuk ke Piagam Jakarta. Andaikan Wahid Hasyim masih hidup di tahun 1955, bisa jadi ia akan menjadi seorang wakil Islam yang gigih dalam memperjuangkan kembalinya Piagam Jakarta. Munculnya Dekrit presiden tahun 1959 misalnya, dengan kembali ke UUD 1945, Piagam Jakarta disebut-sebut sebagai telah menjiwai UUD tersebut.
DEPARTEMEN AGAMA
Sebelum menjadi Menteri Agama di dalam kabinet Hatta, Wahid sudah menjadi Menteri Negara. Ini terjadi pada tahun 1945 dalam Kabinet Soekarno, dan dalam Kabinet Sjahrir III (1946-1947). Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam bidang pemerintahan, bukanlah sesuatu yang asing baginya. Meski Kementerian agama sudah berdiri pada tahun 1946, tapi goyangan terhadap kementerian ini terus melaju di era Wahid Hasyim menjadi menterinya. Berbagai argumen tentang tidak pentingnya kementerian ini bergulir terus. Tapi Wahid Hasyim, dengan berbagai argumentasinya, berusaha mempertahankan dan mengembangkan kementrian agama. Bagi mereka yang tak setuju dengan Departemen Agama, punya argumentasi bahwa negara tidak mengurusi soal-soal agama. Argumen ini dijawab oleh Wahid, bahwa, meski negara kita bukan negara agama, tapi negara tak bisa lepas begitu saja terhadap persoalan agama. “Hanya negara Ateis yang melepaskan diri dari agama,” paparnya. Departemen ini penting, menurut Wahid, untuk mengurusi masalah-masalah keumatan. Ada juga yang mengkritik bahwa Depag lebih banyak mengurusi kepentingan umat Islam. Hal ini dengan mudah dijawab oleh Wahid, bahwa jumlah umat Islam di Indonesia itu mayoritas, karena itu wajar bila pemerintah memberikan perhatian lebih kepada mereka. Dalam kenyataannya, pemeluk agama-agama selain Islam, juga mendapat perlakuan yang sama di dalam Depag.
Di era Wahid Hasyim menjadi menteri agama ini pula lahirlah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta . Kelahirannya berdasarkan Peraturan Pemerintah No 34 tahun 1950 bahwa Fakultas Agama di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dikembangkan menjadi PTAIN. Peresmiannya dilakukan pada 15 September 1951. Adapun latarbelakang berdirinya PTAIN ini, menurut Wahid, karena umat Islam belum punya lembaga tinggi untuk mencetak kader-kader yang paham akan agamanya. Di banding dengan komunitas nonmuslim, umat Islam tertinggal. Umat Kristen sudah punya Sekolah Tinggi Teologi, tapi umat Islam belum punya perguruan tinggi serupa. PTAIN inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang kini, sebagian sudah menjadi berkembang dan berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).
BIODATA Nama: Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim
Lahir: Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914
Meninggal: Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953
Agama: Islam
Isteri:  Sholichah
Anak:
- Abdurrahman Wahid
- Aisyah Wahid
- Salahuddin Wahid
- Umar Wahid
- Lily Khodijah Wahid
- Muhammad Hasyim Wahid
Ayah:  KH. M. Hasyim Asy’ari
Ibu:  Nyai Nafiqah

Karir: 
- Pengurus Nahdlatul Ulama, mulai dari jabatan Sekertaris NU Ranting Cukir, Ketua Cabang NU Kabupaten Jombang (1938) dan Pengurus PBNU bagian ma’arif (pendidikan), 1940 dan Ketua Tanfidiyyah PBNU,1948 
- Ketua Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), 1940
- Pengasuh Pesantren Tebuireng (1947 – 1950)
- Pendiri Sekolah Tinggi Islam (UIN) di Jakarta, 1944
- Anggota BPUPKI dan PPKI, 1945
-
- Bersama M. Natsir menjadi pelopor pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia yang diselenggarakan di Jogjakarta dan mendirikan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), 1948
- Ketua Umum Partai NU, 1952



Spirit baru Kartini dari estetika The Lady

Suu, Kartini, Krisma
Suatu keajaiban sekaligus kegaiban. Kaum hawa di negeri ini—yang menjunjung tinggi RA Kartini dengan mensakralkan hari lahir pejuang emansipasi asal Jepara tersebut—mendapat spirit baru kebangkitan perempuan dengan kehadiran film tentang jalan hidup Aung San Suu Kyi, The Lady.

Sebagaimana perjuangan tokoh oposisi pemerintah Myanmar itu, jalan hidup Kartini pun diangkat ke layar lebar pada 1982 oleh sutradara Sjumanjaya. Film RA Kartini diangkat dari buku karya Siti Soemandari Soeroto dan sejumlah disertasi orang Belanda tentang Indonesia abad XIX. 

Tentu saja semangat zaman kedua film tersebut berbeda. Meski demikian ruh perjuangan kedua tokoh dalam film itu senada. Suatu keajaiban dan kegaiban bagi kaum perempuan di negeri ini, jika spirit hidup keduanya saling mengutuhkan. 

Betapa eksistensi perempuan dalam mengaktualisasikan diri pada kenyataannya kini memiliki tantangan dan hambatan yang jauh lebih besar ketimbang keberadaan laki-laki. Pelbagai faktor termasuk di dalamnya andil besar laki-laki dalam mengukuhkan budaya patriarki, mengurung ruang gerak perempuan. 

Dalam The Lady, dikisahkan, Suu yang semula tinggal di Inggris—negeri asal Mikey, yang menikahi doktor ilmu budaya Oriental dan Afrika dari Universitas London ini—pada 1988 pulang ke negerinya lantaran ibundanya sakit parah. Mikey yang diperankan David Thewlis dikenal Suu saat masih belajar di Universitas Oxford. Keduanya menikah tahun 1972 dan menetap di Inggris.

Kepulangannya ke tanah air bersamaan dengan maraknya demonstrasi mahasiswa menentang pemerintahan junta militer. Banyak jatuh korban dalam aksi unjuk rasa ini karena tentara memakai kekerasan untuk mengatasinya. Mereka menembaki para demontran dengan peluru tajam.

Suu Kyi menyaksikan itu semua di depan matanya. Peristiwa tersebut menggugah hatinya untuk terjun langsung ke politik. Mulailah ia menggalang dukungan dan menyebarkan ide-ide demokrasi tanpa kekerasan ke seluruh penjuru Myanmar. Dia meniru Gandhi, melawan penguasa diktator tanpa kekerasan. 

Junta militer di bawah Jenderal Than Shwe semakin represif. Suu Kyi menjadi lawan politiknya yang paling berbahaya. Dengan segala cara dia berupaya menghentikan perlawanan wanita hebat itu. Tak cukup hanya menjadikannya tahanan rumah, Suu Kyi juga dijauhkan dari suami dan anak-anaknya. Tetapi, Suu Kyi bergeming. Dia tahu, dia lebih dibutuhkan oleh rakyat dan negaranya. Dengan tabah, dia menjalani semua penderitaan itu.

***

Suu—perempuan kurus yang jejuluk si anggrek baja itu—begitu tampak menyusut kecil tatkala luruh dari kesedihan dan meringkuk di lantai rumah besarnya yang dirangkul danau luas. 

Perempuan itu begitu terpukul, lalu tenggelam dalam kegetiran mahaduka setelah mendengar kabar dari nyala radio transistor miliknya: kabar tentang kematian suaminya—pria yang telah memberinya dua putra dari rahim Suu.

Adegan yang boleh dikata paling menyentuh dari keseluruhan film The Lady (2011) arahan sutradara Luc Besson seakan hendak memperlihatkan betapa cinta yang begitu mendalam pada akhirnya juga telah menghukum manusia—ia kehilangan sesuatu yang dicintai, akan tetapi tak akan pernah kehilangan cinta itu sendiri, hidup ini.

Suu—perempuan yang digambarkan sebagai aktivis prodemokrasi Aung San Suu Kyi—telah banyak mengalami peristiwa percobaan penghilangan cinta itu dari hidupnya, dan tidak pernah berhasil lenyap sepenuhnya. 

Mula-mula film ini dibuka dengan adegan masa kanak-kanak Suu dalam pangkuan sang ayah, Jenderal Aung San. Sang ayah yang tokoh kemerdekaan Myanmar tersebut terlihat menyematkan sekuntum anggrek. Lantas Suu ditinggalkan sang ayah sendirian. Itulah pertemuan terakhir Suu dengan ayahnya, sebelum ayahnya dibunuh oleh rival politiknya pada 1947, persis enam bulan sebelum kemerdekaan Myanmar dari koloni Inggris.

Ketika suasana kejiwaan Suu nyaris luluh lantak karena suami tercintanya menderita kanker ganas, Suu justru memperlihatkan sisi cinta yang lain. Ia menolak tawaran pemerintah junta militer Myanmar agar Suu menemui suaminya. 

Suu yakin itu hanyalah alibi untuk semata-mata mengusir dirinya dari negeri itu, menjauhkan dari para pendukungnya dan melarangnya masuk kembali ke tanah kelahirannya. Sebab itu pada saat kehilangan suaminya, Suu menghukum diri atas nama sesuatu cinta yang lebih luas. Cinta pada keyakinannya akan idealisme perjuangan, tanah air dan semata rasa kemanusiaan para pengikutnya. 

Meski demikian The Lady lebih merupakan drama cinta seorang aktivis prodemokrasi dengan profesor Kajian budaya Tibet, ketimbang kisah perjuangan perempuan dalam merebut kemerdekaan dari pemerintah junta militer. 

Cinta dalam kehidupan Suu yang diperankan Michelle Yeoh mengalami sublimasi justru oleh karena dorongan keterlibatan Suu dalam gebalau permasalahan politik di negerinya. Meski ada kesan pula, ia meluaskan cinta dan kasih sayang pada keluarga, suami (Mikey) dan kedua anaknya (Alex dan Kim) dengan memperjuangkan demokrasi di Myanmar—negeri yang dikendalikan penguasa yang menceraiberaikan keluarganya.

Peluru demikian murah. Tapi harga nyawa penentang pemerintah ternyata jauh lebih murah. Suu demikian “anti peluru” tubuhnya gemetar setiap kali menyaksikan darah atau mendengar letupan peluru. Karena peluru juga yang telah membunuh ayahnya. Ia juga menyaksikan penembakan mahasiswa. Perburuan tentara ke rumah sakit dan penembakan mematikan ke awak medic. Ia juga tak menduga dan menutup telinganya saat tentara menghamburkan peluru ke arah pendukung Suu yang bermaksud memberikan semangat padanya. 

Sebagai seorang yang pernah tinggal lama di India saat mengikuti ibundanya sebagai duta besar di negara itu, Suu begitu mengagumi tokoh Mahatma Gandi yang anti kekerasan. Setidaknya hal itu ditunjukkan Suu yang meminta pendukungnya menyembunyikan pistol saat tentara menggerebek rumah kediaman Suu. 

Sikap “anti peluru” Suu bukan berarti dirinya takut pada peluru. Pengalaman pahit getir perjuangan sejak leluhurnya membuatnya tetap punya keyakinan bahwa harga peluru boleh murah. Namun demikian kebebasan, harga diri serta hak-hak menentukan nasib sendiri oleh rakyat Myanmar tidak bisa dinilai dengan sesuatu harga pun. Pendeknya, kemerdekaan adalah harga mati! 


Suatu ketika, kampanye partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang dipimpin Suu digagalkan tentara. Pendukungnya harus mundur di bawah todongan senjata laras panjang. Sebaliknya, Suu dengan sorot mata lebih tajam dari laras pistol perwira pimpinan pasukan itu, perempuan itu bernyali terus mendekati moncong pistol. Tak ada sebutir peluru pun yang keluar dari larasnya. 

Inilah aspek filmis yang paling menarik dari sisi keteguhan, keyakinan dan keberanian Suu dalam memperjuangkan hak-hak sipil di negeri itu. Walaupun pada akhirnya sebutir peluru memakan korban perwira tentara itu sendiri dari tangan Jenderal Than Shwe—seorang penguasa yang digambarkan selain otoriter juga membutuhkan legitimasi kuasa pada seorang paranormal. 

Nasib tragis sang paranormal pun juga berakhir di ujung peluru, ketika sang jenderal tak membaca dengan baik sasmita dari sang mistikus tersebut. Betapa peluru hanyalah kepanjangan tangan watak otoritarian dan cenderung merendahkan martabat mistik.

Dengan segala cara pemerintah junta militer hendak meruntuhkan nyali, moral dan spirit cinta Suu. Yang paling tragis adalah ketika dijauhkan dari keluarga. Sebagai seorang perempuan, seorang ibu, tentu hal seperti ini bukanlah penderitaan yang biasa. 

Segala saluran telpon, bahkan dijalur Suu di kedutaan besar Inggris bisa diputus sepihak setiap kali berbicara dengan Mikey atau anak-anaknya. Untuk memperoleh visa kunjungan, Mikey harus menunggu tanpa batasan waktu yang jelas, atau penolakan tanpa alasan jelas pula. 

Bahkan saat Mikey di bandara tanah air Suu, langsung diasingkan oleh tentara. Belum lagi anak-anak mereka (Alex dan Kim) yang ditolak kewarganegaraannya oleh pemerintah junta militer. Jelaslah itu semua adalah upaya untuk menjauhkan Suu dari kehidupan keluarganya. 

Suu sendiri dikurung dalam tahanan rumah selama 13 tahun hanya ditemani seorang pembantu perempuan. Teman lain yang sangat penting bagi keberadaan Suu dalam tahanan rumahnya adalah sebuah piano tua dan radio transistor. 

Suu senantiasa memainkan musik pada piano tersebut manakala jiwanya berada dalam kesunyian yang tak tersentuh. Ia menerbangkan nada-nada musik piano itu ke halaman rumah dan tentara yang berjaga turut mencoba mengenalinya. Sedangkan radio satu-satunya yang bisa membawa kabar peristiwa dunia luar padanya. 

Dia menjalani penderitaan itu semua, sementara di belahan bumi yang lain, Mikey memelihara cinta pada keluarga itu dengan membesarkan Alex, Kim dan melakukan lobi-lobi tingkat tinggi di Eropa atas perjuangan Suu pada demokrasi. Sampai suatu ketika pada 1991 panitia hadiah Nobel Perdamaian di Oslo Norwegia mengumumkan penghargaan itu untuk Suu. 

Dengan besar hati, Mikey meminta salah seorang dari putranya untuk menyampaikan pidato penerimaan hadiah bergengsi di ajang terhormat tersebut, semata-mata mempertimbangkan cinta Suu pada keluarganya. 
Tepat pukul 19.00 waktu rumah tahanan Suu, setelah kepanikan mencari baterai cadangan untuk radio transistornya, ia mendengarkan pidato Alex di Oslo dengan kebahagian Suu yang sulit digambarkan. Kebahagian itu pula yang turut ia tumpahkan melalui nada-nada piano yang lamat-lamat mengiringi irama orkestra di acara penganugerahan tersebut. 

Buat Suu, hadiah nobel hanyalah sesuatu kekuatan kecil, karena kekuatan terbesar telah ada padanya, juga pada keluarganya—Mikey, Alex dan Kim. Terlebih hadiah nobel tak begitu berdampak pada kebebasan hidup pribadinya, apalagi negaranya. 

Suu hanya sempat bebas sejenak dari tahanan pada 1995, sesudah itu penjara yang lebih panjang justru musti dijalaninya. Demikian pula dengan pembebasannya pada 2002 yang cuma dinikmati kurang dari setahun, sebelum akhirnya pemerintah menjebloskannya kembali. 

Bahkan sampai kemudian terjadi aksi kekerasan di negeri itu lagi pada 2007 yang digerakkan oleh kaum biksu—yang digambarkan berupa cuplikan film dokumenter. Sesuatu yang sebelumnya tak terjadi, pada September itu Suu Kyi diizinkan menemui biksu meski dari balik tembok dan dibawah pengawalan ketat tentara. 

Inilah pemunculan pertamanya di muka publik sejak penahanannya yang terakhir. Dalam film itu digambarkan Suu melambaikan tangan dan menerbangkan sekuntum anggrek pada para pendukungnya. 

***

Kini Aung San Suu Kyi yang dibebaskan dari tahanan November 2010, berusia 63 tahun ketika film The Lady—dibuat dengan banyak sekali dukungan para pengikut Aung San Suu Kyi—beredar di pasaran dan ditonton jutaan orang. 

Pada film RA Kartini—yang saya tonton pada tahun 1980-an dari acara “Film Akhir Pekan di TVRI”—memang tak sebutir peluru pun yang terdengar diletupkan. Film RA Kartini, menghadirkan sosok kartini sejak kelahiran hingga wafatnya. Kartini (Yenny Rachman) lahir dari seorang selir RM Aryo Sosroningrat. Ketika remaja ia suka membaca buku fiksi termasuk novel Max Havelaar. 

Sepanjang hidupnya ia menghadapi begitu banyak persoalan bangsa; kemiskinan, kebodohan dan tentu saja persoalan dirinya sebagai kaum perempuan—budaya patriarkhi, poligami, tradisi pingit, perjodohan paksa. Kartini sendiri dijodohkan dengan Bupati Rembang Djojoadinigrat. Hanya berkat kecerdikan Kartinilah, ia bisa mengajukan persyaratan perjodohannya tersebut agar diizinkan meneruskan cita-citanya. 

Latar budaya Jawa, padatnya buah pikiran Kartini yang ditampilkan sebagaimana isi surat-suratnya dalam Habis Gelap Terbitlah Terang tak lain guna mengukuhkan gagasan Kartini pada perjuangan kebebasan, kemerdekaan dan keadilan bangsa dan kaumnya. 

Perbedaan zaman menyebabkan nasib Kartini lebih tragis dari Aung San Suu Kyi. Kartini mati muda pada 17 September 1904.

Dari situs jejaring sosial facebook beredar kabar terbaru meninggalnya Kartini akibat komplikasi dari preeklamsia (gangguan multisistem spesifik pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan adanya protein dalam urin—yang menjadi penyebab utama angka kematian ibu hamil disamping infeksi dan pendarahan. Barangkali memang karena teknologi dan pengetahuan kesehatan waktu itu tak menjangkau keselamatannya. Barangkali pula oleh karena sebab lain ketika manusia gagal merebut takdirnya.

Begitulah Suu Kyi masih hidup. Kartini telah tiada. Namun kaum perempuan di negeri ini tentu berharap api perjuangan keduanya senantiasa menyala bagi bingkai takdir kehidupan lainnya

Penulis adalah pengarang, Kepala Divisi Pelatihan dan Advokasi WYDII, Surabaya
Loading....

Sering dilihat

Jadwal Sholat

Berlangganan Artikel

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Copyright © 2011. Maheswaranet - Just out of my mind - All Rights Reserved
Support : Maz Template
Template Edited by Ilu2Mz
Proudly powered by Blogger