Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Apa itu Narsis ?

Written By Unknown on 11 Juni 2012 | 00.37


narsis
Narsis Lo.. wkwkwk

Asal Mula istilah Narsis. Konsep dan istilah narsisisme atau narsisistik berawal dari mitologi Yunani kuno tentang seorang pemuda tampan yang bernama Narsisus. Narsisus adalah putra dewa sungai, Cephissus. Pada saat itu Echo, seorang dewi yang tidak bisa berbicara, jatuh cinta kepadanya. Namun Narcisus bertindak kejam dan menolak cinta Echo. Pada suatu hari, Narsisus melewati sebuah danau yang sangat bening airnya dan melihat pantulan dirinya sendiri. Narsisus sangat mengagumi dan jatuh cinta pada pantulan itu. Narsisus sangat ingin menjamah dan memiliki wajah yang dilihatnya, tapi setiap kali mengulurkan tangannya untuk meraih pantulan itu, bayangan itu kemudian menghilang.
Narsisus tetap menunggu di tepi danau untuk mendapatkan bayangan yang menjadi obyek kekagumannya sampai mau menceburkan dirinya sendiri ke dalam danau dan akhirnya mati. Para dewa merasa kasihan padanya, sehingga Narsisus ditranformasikan menjadi tumbuhan berbunga yang diberi nama Narsisus berwarna kuning cerah, dan dikenal juga dengan nama Yellow Daffodil. Mitologi ini digunakan dalam Psikologi pertama kalinya oleh Sigmund Freud (1856-1939) untuk menggambarkan individu-individu yang menunjukkan cinta diri yang berlebihan. Freud menamakan “The narsissists” dan pelakunya disebut individu narsisistik atau seorang narsisis (http://www.psikologiums.net).
Lebih lanjut Fromm berpendapat, narsisme merupakan kondisi pengalaman seseorang yang dia rasakan sebagai sesuatu yang benar-benar nyata hanyalah tubuhnya, kebutuhannya, perasaannya, pikirannya, serta benda atau orang-orang yang masih ada hubungan dengannya. Sebaliknya, orang atau kelompok lain yang tidak menjadi bagiannya senatiasa dianggap tidak nyata, inferior, tidak memiliki arti, dan karenanya tidak perlu dihiraukan. Bahkan, ketika yang lain itu dianggap sebagai ancaman, apa pun bisa dilakukan, melalui agresi sekalipun (Pikiran Rakyat, 14/04/2003).
Menurut Spencer A Rathus dan Jeffrey S Nevid dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000), orang yang narcissistic atau narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan. Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian. Menurut Rathus dan Nevid (2000) dalam bukunya, Abnormal Psychology orang yang narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian.
Sedangkan menurut Papu (2002) yang mengutip DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition) orang yang narsistik akan mengalami gangguan kepribadian, gangguan kepribadian yang dimaksud adalah gangguan kepribadian narsisistik atau narcissistic personality disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain.
Lebih lanjut menurut Menurut Sadarjoen (2003) yang mengutip Mitchell JJ dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, ada lima penyebab kemunculan narsis pada remaja, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati sama orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya kontrol moral yang kuat, dan kurang rasional. Kedua aspek terakhir inilah yang paling kuat memicu narsisme yang berefek gawat.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku narsistik ditandai dengan kecenderungan untuk memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian selain itu juga tumbuh perasaan paling mampu, paling unik.

Lesbianisme, gaya hidup atau Abnormalitas Sexual?


lesbi
Di Indonesia, Lesbianisme rupanya berkembang cukup pesat dalam wilayah sosial kemasyarakatan. Kalau dulu, perempuan lesbi sebisa mungkin menyembunyikan jati dirinya, tapi saat ini mereka berhimpun dalam wadah atau organisasi yang semua orang bisa mengetahuinya. Lihat saja, grup-grup lesbian yang bertebaran di Facebook maupun situs-situs dewasa lainnya. Lantas pertanyaannya, apakah Lesbianisme saat ini menjadi gaya hidup? Bukankah lesbian merupakan abnormalitas atau penyimpangan seksual? 
Lesbianisme tergolong dalam abnormalitas seksual yang disebabkan adanya partner-seks yang abnormal. Lesbianisme berasal sari kata Lesbos. Lesbos sendiri adalah sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita (dalam Kartono, 1985). Homoseksualitas dikalangan wanita disebut dengancinta yang lesbis atau lesbianisme. Memang, pada usia pubertas, dalam diri individu muncul predisposisi (pembawaan, kecenderungan) biseksuil, yaitu mencintai seorang teman puteri, sekaligus mencintai teman seorang pria.
Pada proses perkembangan remaja yang normal, biseksualitas bisa berkembang menjadi heteroseksual (menyukai lawan jenis). Sebaliknya jika prosesnya abnormal, misalnya disebabkan oleh faktor endogin atau eksogin tertentu, maka biseksualitas bisa berkembang menjadi lesbian, dan obyek-erotisnya adalah benar-benar seorang wanita. Pada umumnya, cinta seorang lesbianisme itu sangat mendalam dan lebih hebat dari pada cinta heteroseksual. Meskipun pada relasi lesbian, tidak didapatkan kepuasan seksual yang wajar. Cinta lesbian juga biasanya lebih hebat daripada cinta homoseksual diantar kaum pria.
Gejala Lesbianisme antara lain disebabkan karena wanita yang bersangkutan terlalu mudah jenuh terhadap relasi heteroseksualnya, misalnya suami atau kekasih prianya. Seorang yang lesbian tidak pernah merasakan orgasme. Penyebab yang lain adalah pengalaman traumatis terhadap seorang pria atau suami yang kejam, sehingga timbul rasa benci yang mendalam dan antipati terhadap setiap laki-laki. Kemudian ia lebih suka melakukan relasi seks dan hidup bercinta dengan seseorang wanita lain. Wanita lesbian menganggap relasi heteroseksual tidak bisa membuat dirinya bahagia, relasi seksnya dengan sesama wanita dianggap sebagai kompensasi dari rasa ketidakbahagiaannya tersebut.
Nah, baik lesbianisme pada wanita maupun homoseksualitas pada laki-laki banyak distimulir oleh hormon eksogin dan faktor lingkungan. Lantas apakah Lesbianisme merupakan sebuah gaya hidup ataukah abnormalitas seksual? kesimpulannya diserahkan sepenuhnya kepada pembaca, dan yang mesti di ingat sebelum menyimpulkan adalah pada faktanya kaum lesbi menjadi sebuah gaya hidup para wanita ketika issue gender semakin menguat. Menuduh mereka abnormalitas secara seksual juga terlalu naif, karena kaum lesbian di Indonesia belum ada yang diteliti hormon penyebabnya. Bisa jadi semakin banyaknya lesbian Indonesia karena ‘ketidakmampuan’ laki-laki menempatkan perempuan dalam tempat yang seharusnya. 
Ciri-ciri lesbi

1. Jika ada seorang wanita yang mempunyai penampilan mirip seorang laki-laki, bisa jadi wanita tersebut adalah seorang lesbian. Namun meskipun begitu, wanita dengan tampilan laki-laki tidak semuanya seorang lesbian.

2. Ciri kedua jika ada wanita yang suka memegang, meraba, atau mencolek bagian tubuh wanita lain seperti dada dan sejenisnya, sudah bisa di pastikan wanita itu adalah lesbian jika dia sering melakukan hal itu. Bisa di katakan begitu karena secara umum hal itu hanya di lakukan oleh kebanyakan kaum pria saja.

3. Seandainya ada wanita lesbian yang memiliki pacar cowok, wanita ini akan berbeda atau tidak terlalu beromantis ria dengan pacarnya dan juga mereka akan jarang melakukan kencan.

4. Ciri lain dari wanita seperti ini bisa di lihat dari cara dia memperhatikan teman wanitanya. Jika kebaikannya terlihat berlebihan atau tidak selayaknya seperti seorang teman. Untuk masalah seperti ini biasanya wanita lesbian akan lebih sering memberi sesuatu yang kalau di lihat dari kemampuan dia memberi bisa di katakan sangat istimewa.

Itu dulu ciri wanita penyuka sesama jenis yang saya berikan. Masih bicara soal wanita lesbi. Wanita lesbi itu bisa berubah menjadi wanita normal lagi jika dia mau berusaha. Tapi jika intensitasnya terlalu tinggi maka dia akan sulit untuk berubah.

Internet dan Explorasi Diri

Written By Unknown on 10 Juni 2012 | 22.43

Dampak Internet


Apakah internet dapat digunakan sebagai alat untuk eksplorasi diri? Pertanyaan tersebut bukanlah tanpa alasan mengingat bahwa banyak situs yang menampilkan berbagai test EQ maupun IQ. Selain itu teknologi dunia maya ini memberikan banyak kesempatan kepada individu untuk mengekspresikan diri secara unik. Namun demikian para Psikolog berpendapat, kalau seseorang gagal mengintegrasikan antara diri sejati dengan diri yang diekspresikan secara berbeda di internet, maka hal ini akan sangat berbahaya bagi pertumbuhan pribadi orang tersebut.

Mengenai dampak internet sebagai alat explorasi diri, para Psikolog memandang   hal   tersebut   tergantung   dari   pribadi   si   penggunanya. Tentu internet akan bermanfaat jika mampu meningkatkan kehidupan seseorang,   dan   sebaliknya   menjadi   penyakit   jika   membuat   kacau kehidupan orang tersebut. Pengaruh buruk akan terjadi jika internet digunakan sebagai sarana untuk mengisolasi diri. Banyak orang tidak sadar   bahwa   lama-kelamaan   ia   menutup   diri   terhadap   komunikasi sosial entah karena keasikan ngebrowse atau karena internet dipakai sebagai   pelarian   dari   masalah-masalah   yang   berhubungan   dengan kepribadiannya.  

Hal   itu   dapat   terjadi   karena   ada   individu   yang menampilkan   kepribadian   yang   berbeda   pada   saat   online  dengan offline. Motivasi dibalik itu tentu berbeda antara satu orang dengan yang   lain.  Permasalahan   akan   rumit   jika   alasannya   adalah   karena individu tersebut tidak puas/suka  terhadap dirinya  sendiri (mungkin karena   rasa  minder,   malu,   atau   merasa   tidak   pantas),   lantas menciptakan   dan   menampilkan   kepribadian   yang   lain   sekali   dari dirinya   yang   asli.   Seringkali   ia   lebih   suka   pada   kepribadian   hasil rekayasa yang baru karena tampak ideal baginya. Padahal, menurut para Psikolog, hal ini tidak benar dan tidak sehat. Mengapa demikian?

Michelle   Weil,   seorang   Psikolog   dan   pengarang   buku   terkenal, memberikan contoh konkrit tentang seorang gadis yang dijauhi oleh teman-temannya   lalu   kemudian   menghabiskan   waktu   untuk   mojok berchatting   ria   dengan   menampilkan   karakter   yang   sangat kontradiktif  dengan   karakter   aslinya.  Akibatnya,  lama   kelamaan   ia semakin jauh dengan kenyataaan sosial yang ada, bahkan tidak bisa menerima   diri   apa   adanya.   Menurut   pakar   psikoanalisa   terkenal seperti  Erich Fromm, kondisi  demikian  dinamakan neurosis. Kondisi neurosis  yang   berkepanjangan   akan   mengakibatkan   gangguan   jiwa yang   serius.  Michelle   lebih   lanjut   menambahkan,   bahaya   latennya adalah  terbentuknya   kepribadian online  yang   berbeda   dengan  yang asli.

Tentu saja ada pengaruh positif dari penggunaan (bukan kecanduan) internet   terhadap   kepribadian   seseorang.   Reid   Steere,   seorang Sosiolog dari  Los Angeles mengatakan, jika  seseorang menggunakan internet  sebagai   media   eksplorasi   diri   dengan  kesadaran  penuh,  ia akan   mengalami   pertumbuhan   sebagai   hasil   dari   refleksi   dirinya secara utuh melalui internet.

Bahasa Tubuh


Bahasa Tubuh Krisma
JANGAN marah jika Anda disebut sombong,  hanya karena Anda tak acuh pada lawan bicara. Usah tersinggung bila Anda disebut congkak, cuma karena Anda abai pada orang yang mengajak bicara. Bahasa tubuh Anda bisa menceritakan siapa Anda sesungguhnya: beradab atau tak berbudi.
Jangan berang juga, jika orang-orang tak beradab ternyata berasal dari golongan berpunya. Sementara orang-orang santun dan tahu aturan menjadi ciri kelompok manusia kebanyakan. Jadi, orang kaya biasanya sombong. Orang biasa, yah biasa saja.
Jangan langsung terpengaruh, sebab ini cuma temuan penelitian tim psikologi dari University of California yang dilansir di situs livescience.com. Mereka menyimpulkan, kelompok orang dari kelas sosial ekonomi mapan cenderung angkuh dan tidak menghargai orang lain.
Psikolog Michael Kraus dan Dacher Keltner membuat kesimpulan itu berdasarkan riset terhadap 100 mahasiswa, yang dibagi menjadi 50 pasangan. Satu mahasiswa berlatar keluarga kaya dipasangkan dengan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Di antara mereka tak saling kenal.
Tiap pasang mahasiswa beda kasta itu, kemudian diwawancarai atau persisnya diajak berbincang-bincang ihwal topik tertentu selama 60 detik. Tiap mahasiswa mendapat jumlah pertanyaan dan waktu yang sama dari pewawancara.
Bukan isi pembicaraan atau jawaban sang mahasiswa yang jadi catatan utama. Yang direkam dan dicermati dengan seksama adalah sikap atau perilaku mereka selama berlangsungnya percakapan. Persisnya, bagaimana bahasa tubuh mereka masing-masing. Mau tahu hasilnya?
Mahasiswa kaya memperhatikan benda-benda di sekitar tempat wawancara rata-rata selama dua detik, sementara mahasiswa miskin tidak melakukannya. Mahasiswa kaya agak sibuk pada penampilannya, sedangkan mahasiswa miskin tidak. Mahasiswa miskin menganggukkan kepala, tersenyum, dan mengekspresikan mimik muka perhatian, rata-rata satu sampai dua detik lebih banyak dibanding mahasiswa kaya.
“Kita memang berbicara dalam satuan detik, tapi jangan lupa wawancaranya hanya satu menit,” kata Kraus. “Coba Anda kalkulasikan jika kejadiannya dalam hitungan hari.” Apalagi berbilang bulan, terlebih tahun.
Menurut Kraus, temuan penelitiannya mengingatkan pada adanya kecenderungan “kebinatangan” pada diri manusia. Ia mengamsalkan, mahasiswa kaya itu seperti burung merak yang selalu memamerkan bulu-bulunya. Bahasa tubuh mahasiswa tajir seolah berkata, “I’m fit” atau “I don’t need you”.
“Di dunia binatang, perebutan status selalu memunculkan konflik,” kata Kraus. Manusia juga begitu. Dengan bahasa tubuh tertentu misalnya, kelompok manusia kaya atau berpengaruh hendak mengatakan, “Anda beda kelas dengan saya. Jadi, jangan coba-coba berurusan dengan saya.”
Sementara itu, mengingat keterbatasannya, manusia tidak kaya agak sulit mengalahkan kelompok borjuis. “Sumber daya kelompok miskin memang terbatas. Itu sebabnya, secara psikologis mereka cenderung sangat tergantung pada lawan kelasnya,” Kraus menggeneralisir hasil penelitiannya.

Wanita paling sexy


OTAKMU seksi, itu terbukti, dari caramu, memikirkan aku. Matamu seksi, itu terbukti, dari caramu, menatap aku…..Hidungmu seksi, itu terbukti, dari caramu, cium pipiku. Bibirmu seksi, itu terbukti, dari caramu, sebut namaku…..
Begitulah, antara lain, fantasi Ahmad Dhani ketika melukiskan Makhluk Tuhan Paling Seksi. Lewat lagu yang dipopulerkan Mulan Jameela itu, Dhani menambahkan, “Hatimu seksi itu terbukti, dari caramu memeluk hatiku…..Jantungmu seksi itu terbukti, dari caramu cemburu padaku.”
Anda boleh setuju. Tak dilarang juga beda pendapat. Colin Stewart misalnya, dalam tulisannya yang bertajuk A Thing of Beauty, mengkhayalkan keseksian atau kecantikan wanita dengan menggabungkan pesona sejumlah pesohor. Maka, jadilah sesosok figur khayal nan menggairahkan.
Makhluk imajiner itu berbibir serupa dengan milik Angelina Jolie. Ia berhidung seperti kepunyaan Nicole Kidman. Wanita itu – maaf — juga berbuah dada layaknya properti Pamela Anderson. Sederhana kata, ia punya kesempurnaan sejak bawah sampai atas. Ia seksi sejak ujung kaki sampi rambut.
Stewart tak asal comot ketika merancangbangun identitas keseksian wanita itu. Ia menyandarkan imajinasinya pada hasil survei International Society of Aesthetic Plastic Surgery. Organisasi ini menghimpun keterangan para dokter ihwal selebriti yang sering jadi rujukan pasiennya ketika melakukan operasi plastik.
Soal bentuk kaki contohnya, Tina Turner menduduki rangking atas, dibayang-bayangi oleh Cameron Diaz dan Sharon Stone. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin mereparasi kakinya. Sementara itu, dalam urusan perut, Gisele Bundchen tiada lawan. Perut model asal Brasil ini terseksi sedunia.
Walhasil, wanita fiktif versi Stewart juga berkaki jenjang seperti penyangga tubuh milik Tina Turner. Sedikit lebih ke atas, ia juga berperut tipis seperti Gisele Bundchen. Kalau bentuk –maaf– bokong? Jennifer Lopez memang jagonya. Bodi belakangnya memang dikagumi banyak orang, wanita apalagi pria.
“Kalau Anda perhatikan di bagian belakangnya, di situ pasti Anda akan menemukan Jennifer Lopez,” kata Stewart, menyebut aktris-penyanyi berdarah Latin berbodi amboi itu. “Menurut keterangan para dokter, bagian belakang Jennifer sering dicontoh oleh banyak pasien,” ia menambahkan.
Kita kembali ke depan, naik setingkat ke atas perut. Urusan –maaf—buah dada, sebenarnya terpecah dua. “Banyak pasian bedah plastik yang tergoda memiliki payudara besar dan berisi seperti Pamela Anderson,” kata Stewart. “Tapi, banyak juga yang tidak ingin bentuknya sama persis.”
Beda dengan bentuk bibir, kepunyaan Angelina Jolie tak ditawar sedikitpun. Hebatnya, bentuk mata Jolie juga diidam-idamkan banyak wanita. “Tapi, kami tak ingin terlalu banyak berpatokan pada satu selebriti,” ujar Stewart. Maka, pilihan bentuk mata jatuh pada bintang lain.
Salma Hayek rupanya menjadi pilihan pertama. Kebetulan, sesuai hasil jajak pendapat, matanya selalu disebut-disebut sebagai yang terindah. Mata seksi urutan selanjutnya, dimiliki oleh Catherine Zeta-Jones, Demi Moore, Michele Pfeiffer, Sophia Loren, Elizabeth Taylor, Catherine Deneuve dan Greta Garbo.
Jika Salma Hayek menyumbangkan keindahan mata, Nicole Kidman menyumbangkan kebangiran hidung. Aktris asal Australia ini benar-benar tak punya saingan. “Hidung Nicole diimpikan semua wanita di seluruh dunia,” begitu keterangan pihak International Society of Aesthetic Plastic Surgery.
Makhluk paling seksi ini, selanjutnya disempurkan dengan keindahan rambut milik Jennifer Aniston, yang ditempel ketat oleh rambut Julia Robert yang menempati urutan kedua sebagai rambut terseksi. Pada predikat yang sama, keduanya nyaris dijegal oleh Gisele Bundchen.
Untungnya, model asal Brasil itu sudah lebih dulu menyumbang perut    rampingnya. Jika tidak, bisa-bisa ia kelewat banyak mengubah penampilan wanita. Harap maklum, selain berperut seksi dan berambut indah, Gisele juga hampir saja mengalahkan Pamela Anderson. Anda pasti tahu maksudnya, bukan?
Jika belum puas, makhluk khayal itu masih bisa diperbaiki lagi dengan dagu kepunyaan Sonia Braga, Charlize Theron, atau Julia Roberts. Kemudian, dandani juga dengan dahi Madonna, Nicole Kidman, Elizabeth Taylor atau Oprah Winfrey. Cuma, dalam soal bentuk dahi, pasien umumnya tidak jujur.
“Mereka sebetulnya sangat peduli pada kerut-kerut di dahi,” kata Stewart. “Tapi, anehnya, tidak juga memilih, keriput dahi siapa yang paling seksi,” ujarnya, tersenyum. Ia memang sekadar berkelakar, sebab keriput bukan –atau belum—menjadi kriteria kecantikan.
Mungkin garis-garis di dahi itu belum mampu menghadirkan suasana seperti dilukiskan Ahmad Dhani dalamMakhluk Tuhan Paling Seksi. “Cuma kamu yang bisa membuatku terus menjerit, ouww…ouww…ouww.”
Loading....

Sering dilihat

Jadwal Sholat

Berlangganan Artikel

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Copyright © 2011. Maheswaranet - Just out of my mind - All Rights Reserved
Support : Maz Template
Template Edited by Ilu2Mz
Proudly powered by Blogger